Mengintip Sepotong Kisah Dari Tradisi Menangkap Ikan Dirantau Larangan Sibiruang

Cerita ihwal tradisi dan kekayaan budaya indonesia tampaknya tidak ada matinya. Ada-ada saja tradisi yang unik dan menarik yang terekspos kemuka publik. Tidak terkecuali dari sebuah desa di Sibiruang Kecamatan Koto Kampar Hulu Kabupaten Kampar, Riau. Memantikkan sepotong dongeng dari tradisi menangkap ikan dirantau larangan.

1.Pantang menangkap dan memakan ikan

Cerita ihwal tradisi dan kekayaan budaya indonesia tampaknya tidak ada matinya Mengintip Sepotong Cerita Dari Tradisi Menangkap ikan dirantau Larangan Sibiruang

Sebelum pembukaan
penangkapan ikan diresmikan oleh tetua sopan santun dan pemerintahan desa dalam periode
sekali dua tahun maka disepanjang fatwa sungai yang diberikan tanda tali dan
kain putih yang membentang dari tepian mesjid jamik hingga dengan batas desa
tetangga di hulu tidak dibenarkan menangkap dan memakan ikan disepanjang
sungai. Jika tidak, masyarakat setempat percaya akan mendapat bala karna
sudah dipawang dan ikan yang diapik dari dua tali yang membentang itu tidak
akan sanggup keluar kehilir ataupun kehulu. Hmm, Lumayan mistis ya.

2.Satu Setengah hingga Dua Setengah Ton Ikan

Cerita ihwal tradisi dan kekayaan budaya indonesia tampaknya tidak ada matinya Mengintip Sepotong Cerita Dari Tradisi Menangkap ikan dirantau Larangan Sibiruang

Jika hari H sudah tiba maka masyarakat desa dan sekitarnya
berbondong-bondong tiba membawa jalah, pukat, tangguk bahkan tombak
untuk menangkap ikan. Tidak peduli pria atau perempuan. Muda atau
tua. Semua ikut andil dalam merayakan pembukaan rantau ikan larangan.
Dan tidak tanggung-tanggung pada dikala pembukaan ada sekitar Satu
Setengah hingga Dua Setengah Ton Ikan sungai menyerupai Baung, Sikam,
Baghau dan sebagainya yang berhasil ditangkap masyarakat.

3.Membayar Uang Kotribusi.

Cerita ihwal tradisi dan kekayaan budaya indonesia tampaknya tidak ada matinya Mengintip Sepotong Cerita Dari Tradisi Menangkap ikan dirantau Larangan Sibiruang

Kalau kau ikut serta
dalam menangkap ikan jangan main kembangkan jalah dan pukat saja. Tapi juga
harus membayar uang bantuan minimal 20.000 Rupiah. Uang tersebut digunakan
untuk pembangunan mesjid jamik yang sudah membutuhkan perbaikan. Tapi jikalau Cuma
sekedar menyaksikan tidak perlu membayar. Toh, niscaya ada juga yang tiba bawa
jalah dan pukat tapi lupa membayar uang kontribusi. Hehehe.

4.Bercengkrama Dengan Keluarga dan Masyarakat

Cerita ihwal tradisi dan kekayaan budaya indonesia tampaknya tidak ada matinya Mengintip Sepotong Cerita Dari Tradisi Menangkap ikan dirantau Larangan Sibiruang

Tidak sekedar membawa jalah dan pukat. Masyarakat setempat juga membawa panci, kuali, sendok gulai dan rempah-rempah. Ditepian sungai mereka menanak nasi dan memasak ikan yang didapat disungai bersama keluarga dan masyarkat setempat. Biasanya asam pedas menjadi sajian andalan yang dibuat. Sedangkan piringnya cukup memakai daun pisang. Tuangkan nasi yang masih panas dan asam pedas ikan baung, makan deh rame-rema ‘)

5.Gotong Royong

Cerita ihwal tradisi dan kekayaan budaya indonesia tampaknya tidak ada matinya Mengintip Sepotong Cerita Dari Tradisi Menangkap ikan dirantau Larangan Sibiruang

Tabiatnya sehari sebelum
dan sehabis program simpulan masyarakat setempat bergotong royong menciptakan tanggul
disungai untuk pengamanan serta bergotong royong dalam menyiapkan acara
termasuk bergotong royong membersihkan area disekitar rantau ikan larangan. Memang
indonesia bangetkan “).