Game Over Sebuah Cerpen Dari Alfun Niam Angga. S

 Seperti animo hujan yang mendatangkan gerimis Game Over Sebuah Cerpen Dari Alfun Niam Angga. S
(Gambar/rebellesociety.com)

Hampa, Redup, Sepi, Penggap menyerupai ruang
kosong yang sudah usang ditingalkan. Kelam bagai hitamnya kopi. Tanpa cahaya.
Tanpa suara. Seperti animo hujan yang mendatangkan gerimis, senyap sendu tanpa
penghujung. Mungkin menyerupai itulah citra hati yang telah dipatahkan semesta.
Seolah permainan selesai disaat kita mempertaruhkan segalanya. Jangankan untuk
mencoba hal baru, bermimpi saja seolah tak mampu. Terpuruk diambang batas
diantara mengalah atau kembali berjuang, pilihan yang sulit menyerupai bermain
catur ketika semua menteri, kuda dan benteng sudah dimakan musuh, menyisahkan
pion sebatang sebagai pertahanan terakhir.

Terlihat kurang jelas diantara silaunya cahaya senja. Ada seorang lelaki bermuka lusuh, bermata sayu terdiam sembari menatap senja dengan tatapan kosong. Sesekali terlihat ia meneguk sebotol anggur ditemani bunyi gemuruh debur ombak yang riuhnya hingga dibibir pantai. Bagai bercerita perihal luka batin. Dihantam dan ditampar kenyataan yang tidak sesuai dengan impian itu, sangat menyakitkan.

Sekilas lelaki itu kembali menghela nafas panjang sambil menutup matanya yang sayu dengan mata pandanya yang sudah membengkak. Berharap apa yang dialaminya hanya fana, dan ia meronta dan berharap kembali kekehidupanya yang dulu. Hidup yang penuh dengan senyuman pengharapan cinta kasih dan martabat yang membuatnya berharga. Mungkin dalam hati kecil lelaki itu berteriak tidak menyerupai ini seharusnya yang ia harapan. Umpatan terhadap kegagalan dirinya. Cemoan kepada nasib yang membuatnya kalah dalam permainan dunia untuk mengambarkan ia menjadi yang terbaik dan sanggup mendapatkan semua mimpinya. Membuatnya menyerupai kapal renta tanpa nahkoda di tengah samudra, terombang ambing tanpa tujuan sembari menanti kematiannya ditenggelamkan oleh gelap dan ganasnya lautan.

 Seperti animo hujan yang mendatangkan gerimis Game Over Sebuah Cerpen Dari Alfun Niam Angga. S
(Gambar/via twitter)

Mentaripun mulai menenggelamkan dirinya. Berganti dengan gelapnya malam yang sekarang menjadi sahabat lelaki itu. Tegukkan anggur yang terus menguyur deras membasahi kerongkongannya menciptakan lelaki itu delusional dari kenyataan hidup yang sebenarnya. Rasa hening karna efek yang ditimbulkan sekarang mulai merambah pada pikiranya.  Hiruk pikuk problem yang seolah mengkoyak psikis lelaki itu sekarang mulai memudar. Hati yang lelah menahan beribu problem itu sekarang terluapkan sudah. Seperti tsunami yang tiba-tiba muncul  tak terbendung disaat lautan tenang. Perlahan mata kecil yang menyimpan banyak luka itu sekarang perlahan meneteskan air mata, air mata yang seolah bercerita perihal semua sedih dan  semua mimpi yang terkubur. 

Dalam benak lelaki itu permainannya seolah sudah selesai, Tak ada alasan lagi untuk memulainya kembali. Ketika ia sudah kehilangan segalanya, tahta dan posisi nyaman yang dulu membuatnya selalu mendapatkan segalanya. Sampai aroganisme itu membuatnya seolah dialah yang berhak melempar dadu, dan lupa ada campur tangan yang kuasa disetiap permainannya.

 Seperti animo hujan yang mendatangkan gerimis Game Over Sebuah Cerpen Dari Alfun Niam Angga. S
(Gambar/via pinterest)

Dan sekarang ia kehilangan reputasi pekerjaan bahkan kehilangan dinasti perusahaannya. kekasih yang dicintainya pergi meninggalkanya ketika ia sudah tak mempunyai apa-apa. Tak ada satupun temanya yang mencarinya ketika tahtanya menghilang. Keluarga yang dilupakanya ketika ia menjadi raja tak sudi menerimanya kembali. Tak ada kawasan singgah lagi untuknya, duniapun seolah menertawakan bekas raja yang kehilangan segalanya itu.

Malam semakin menyingsing. Dinginnya angin pantai merembah memasuki pori-pori tubuh dan muka lusuh lelaki itu. Namun tubuh yang sudah tak mempunyai kawasan kembali itu enggan beranjak dan pergi

(Bersambung)