13 Juli Bertemu Jokowi, 24 Juli Makan Nasi Goreng Bersama Megawati, 26 Agustus 2019 Joko Widodo Mengumumkan Ibukota Gres Di Lahan Hgu Prabowo Subianto

ibukota negara mencuat kemuka publik tanah air 13 Juli Bertemu Jokowi, 24 Juli Makan Nasi Goreng Bersama Megawati, 26 Agustus 2019 Jokowi Mengumumkan Ibukota Baru Di Lahan HGU Prabowo Subianto

Pro dan kontra pemindahan
ibukota negara mencuat kemuka publik tanah air. Headline koran memenuhi
pandangan para Akademisi dan politisi. Demikian pula di layar kaca, perdebatan
tentang pemindahan ibukota menjadi perang urat saraf. Dan tak ketinggalan seluruh
platform media umum menghiasi getar getir, impian dan penolakan bahkan
cacian dan hujatan bagi mereka yang berkicau dan berselisih pendapat.

Barangkali fenomena pro
dan kontra ini juga serumit pemindahan ibukota Amerika Serikat, dari New York
Ke Washington Dc. Dari kuala Lumpur Ke Putra jaya Di Malaysia atau dari kontroversi
Canberra yang menjadi ibukota negara Australia sehabis mengalahkan Sydney dan
Melbourne. Rakyat terbelah, Kritikan dan Intimidasi dari Stakholder yang tidak
menginginkan pemindahan ibukota mengantung dikepala presiden.

Namun Amerika dan Mahatir
Mohammad Di malaysia tetap konsisten dengan kata dan konsekuensi. Hingga
akhirnya rakyat Amerika dan Malaysia berhasil mencicipi suksesnya pemindahan
ibukota. Dari sentra ekonomi dan sentra pemerintahan dalam satu kota yang sumpek
menjadi dua kota dan dua sentra yang berbeda dengan tatanan intregasi dan
pemerataan.

Berbeda dengan itu, Pemindahan
ibukota Myanmar dari Yangon ke Naypyidaw. Dari Rio de Janeiro ke Brasilia di Brazil
mengalami kegagalan karna tidak menunjukkan multiplier effect dan cendrung
pemindahan ibukota dilakukan karna ada nilai-nilai tersembunyi yang menguntungkan
para Elit dan Korporasi. Selain sanggup mengeruk kantong dan hutang, pemindahan
ibukota sanggup merusak tatanan ekologi dan perpecahan karna kepentingan.

Lalu siapkah kita dengan segala impian dan konsekuensi kalau alasan pemerintahan joko widodo memindahkan ibukota karna; Pertama, kalimantan minim risiko bencana, kalimantan lokasi strategis, Lokasi ibukota gres akrab perkotaan (Balikpapan dan Samarinda). Dan terakhir karna disana pemerintah juga katanya mempunyai lahan untuk pengembangan ibukota baru. Jika alasan itu sudah dirasa relevan dan mendesak maka pundak membahu yaitu kekuatan utama kita, namun kalau itu dirasa bukan saatnya maka mengkaji dan menunjukkan masukkan konstruktif yaitu hak setiap warga negara.

ibukota negara mencuat kemuka publik tanah air 13 Juli Bertemu Jokowi, 24 Juli Makan Nasi Goreng Bersama Megawati, 26 Agustus 2019 Jokowi Mengumumkan Ibukota Baru Di Lahan HGU Prabowo Subianto

Tapi ada yang menarik ketika presiden joko widodo mengumumkan pemindahan ibukota gres di wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Bukan di Palangkaraya yang menjadi opsi Presiden Soekarno. Dan yang lebih menarik disekitaran wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara itu ada lahan Penebangan HGU ITCI (International Timber Corporation Indonesia) yang sekarang sudah dibandrol oleh Prabowo Subianto dan tidak jauh dari sana berdasarkan Dahlan Iskan, mantan mentri BUMN,  sekitar 40km dari sana juga ada lahan yang berjulukan bukit Soeharto.

Namun
dalam suatu kesempatan pemerintah memang bisa mengambil alih suatu lahan jika
diperlukan tetapi dengan penawaran dan akad dengan pihak terkait. Terlepas
benar atau tidaknya kabar tersebut dan terlepas prabowo itu masih atau memang
tidak menguasai HGU, sebagai rakyat, kita tetap menunjukkan support dan dukungan
kepada upaya pemerintah dalam mewujudkan pemerataan, keadilan dan kesejahteraan
meskipun ibukota gres membutuhkan dana 440 Triliun lebih.

Dan ini bukan perihal prabowo dan gerindra yang dulu begitu kritis terhadap pemerintahan joko widodo apalagi perihal 13 juli prabowo bertemu joko widodo di MRT, 24 Juli prabowo makan nasi goreng bersama megawati, 26 Agustus 2019 joko widodo mengumumkan ibukota gres di akrab lahan HGU prabowo subianto.